Yudas Iskariot
Pendahuluan.
Baca Johanes 13 : 21 – 30
Peringatan Paskah selalu mengingatkan kita kepada dua nama penting selain Yesus sendiri, yaitu Pontius Pilatus dan Yudas Iskariot.
Kitab Perjanjian Baru secara keseluruhan ada 40 ayat yang mencatat tentang penghianatan Yudas.
Tidak ada ibu yang mau memberi nama anaknya “Yudas”, sebab nama ini selalu diassossiasikan dengan ‘penghianat’. Padahal sebenarnya nama Yudas itu bagus sekali: Praise = pujian bagi Tuhan (dalam bahasa Ibrani: Yehuda, Yuda).
Dalam Alkitab ada empat orang yang memiliki nama Yudas,
Yudas dari Damsyik, teman Saulus; Yudas Barsaba, seorang tokoh gereja kuno; Yudas anak Yakobus, murid Yesus dan Yudas saudara kandung Yesus.
Yesus berkata didalam Markus 14:21,
‘……tetapi celakalah orang yang olehnya Anak manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan’.
Yang selalu menjadi pertanyaan kita ialah, “Mengapa Yesus memilih Yudas untuk menjadi muridNya, apakah Dia tidak mengetahui karakter Yudas?”
Yesus sebagai Allah yang maha tahu. Dia tahu siapa Yudas sebenarnya, Johanes menuliskan ‘…..sebab Yesus tahu siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia’ (Yoh. 6: 64).
Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, karena Tuhan melakukan kehendakNya yang mutlak untuk memilih Yudas menjadi murid dan untuk kematian Yesus sesuai nubuatan di Perjanjian Lama (Yoh 17:12), sedangkan bagi Yudas, kehendak bebasnya, yang membuat dia menjadi penghianat.
Hari ini mari kita membuat suatu study kehidupan Yudas agar supaya kita semua mengerti, Mengapa Yudas bisa menghianati Yesus?
Diantara para murid, ada yang mau mengikut Yesus dengan motivasi yang keliru.
contoh: Yakobus & Yohanes (Mar. 10: 35- 37) - motivasi kedudukan
Ternyata bukan saja Yakobus dan Yohanes, melainkan Yudaspun demikian.
Yudas sangat berambisi dalam polotik dengan mencintai kekuasaan dan kedudukan,
pemberitaan tentang Kerajaan Allah yang menarik perhatian banyak orang, membuat dia untuk mengikut Yesus dan menjadi murid Yesus.
Dari sejak awal Yudas melihat Yesus sebagai pemimpin politik atau pahlawan yang hebat, bukan sebagai guru, sahabat, Juru selamat atau Tuhan, seperti murid yang lain, yang karena pengajaran Yesus mereka menjadi kagum kepada Yseus dan mengasihi Yesus.
Yudas meresponi mujizat Yesus dengan pemikiran yang menyenangkan pengharapan dirinya. Yudas seorang yang berkeinginan kuat dan angkuh, karena itu, dia tidak bisa merubah pandangannya tentang Raja yang baru.
Yudas yang pada awalnya tidak pura-pura dan secara tidak sadar, hatinya yang bercabang antara kesenangan duniawi dan pengajaran Yesus, membuat hidupnya berakhir dengan tragis.
Yudas hidup bersama Yesus dengan murid-murid yang lain selama kira-kira 3 tahun lamanya, dia diajar oleh Yesus, diberi kuasa untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dia perlakukan sama oleh Yesus seperti murid-murid lainnya, tetapi Yudas tidak memberi tempat untuk anugerah Allah dalam hatinya, sehingga dia hanya menjadi agen untuk mempromosikan kasih anugerah Allah.
Aplikasi:
Dari sikap Yudas ini terbukti, bahwa orang bisa menjadi bagian dari gereja atau kegiatan kekristenan, tetapi dalam hatinya belum tentu menjadikan Yesus sebagai Juru selamat dan Tuhan. Yudas berfokus kepada apa yang dia akan dapat, bukan kepada apa yang harus dia berikan.
Apakah motivasi anda dalam mengikut Yesus?
Ada empat motivasi yang salah:
· Supaya beroleh kuasa atau karunia (Kis. 8: 9- 24)
· Supaya beroleh posisi (Mark. 10: 35- 37)
· Supaya beroleh berkat tanpa menjadi berkat (Mat. 19: 16- 26)
· Supaya beroleh kepopularitasan.
Contoh: Orang kegereja berharap pacarnya akan bertobat.
Pada masa pelayanan Yesus banyak wanita kaya yang menyumbang untuk Yesus dan murid-muridNya (Lukas 8:3). Yudas dipercayai untuk menjadi bendahara, dia memiliki keahlian mengatur keuangan, karena karakternya yang cinta uang.
Yohanes mengatakan, bahwa Yudas mencuri uang yang dipercayakan kepadanya (Yoh.12: 5- 6).
Iblis tidak akan masuk ke dalam hidup kita, kalau kita tidak membuka pintu atau menyediakan tempat untuk dia berpijak (foodhold). Yudas ternyata membuka diri terhadap Iblis. Mungkin pada awalnya Yudas tidak bersifat pura-pura, tetapi karena hatinya yang bercabang itu, menjadi tempat untuk Iblis berpijak.
Yudas adalah seorang yang memiliki karakter curang, tidak jujur, lebih-lebih dalam soal uang. Hal ini terus berkelanjutan hingga Alkitab menuliskan, Lukas 22: 3- 6, “maka masuklah Iblis”. Yudas tetap masih menjadi murid Yesus, tetapi ia menjadi alat Iblis.
Ada 15 film Hollywood yang menceritakan tentang Yudas: ada yang menggambarkan Yudas sebagai pengecut, ada yang menggambarkan dia tamak akan uang, ada yang menggambarkan dia tidak sabar dengan sifat Yesus yang lemah lembut, ada pula yang menggambarkan Yudas kecewa kepada Yesus, tetapi Lukas menulis dengan jelas …’.maka masuklah iblis kedalam Yudas.’
Pikiran menentukan tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menentukan karakter dan karakter yang membawa kita kepada tujuan akhir.
Yesus berkali-kali mengajar Yudas secara langsung dan tidak langsung, tetapi Yudas memilih jalannya sendiri.
Pada malam Perjamuan akhir sebelum Yesus diserahkan, Dia memecahkan roti dan memberikanNya kepada Yudas supaya dia bertobat, tetapi Yohanes menulis “…..dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Setan “ (Yoh. 13: 27).
Yudas telah memberikan hatinya kepada Setan akibat karakternya, untuk mengkhianati Yesus.
Aplikasi:
Berapa banyak orang yang sebagai aktivis Gereja, menjadi alat Iblis? Kadangkala dalam hal yang kecilpun, Iblis dapat beroleh tempat.
contoh:
Baca Efesus 4: 27, “Jangan memberi kesempatan kepada Iblis.”
Yudas hidup bersama Yesus dan murid lainnya selama kira-kira 3 tahun lamanya, sehingga dia mengerti sekali ketika Yesus berkata tentang kematian dan penganiayaanNya, bahkan Yesus pernah mengajak mereka melihat taman Getsemani, dan Yudas mengerti perasaan Yesus saat Dia berkata tentang kematianNya. Tetapi semuanya ini bukan diterima oleh Yudas untuk dia bertobat, malahan pengetahuan ini dipakai oleh Yudas untuk merencanakan siasatnya bagaimana dia menghianati Yesus.
Lukas 22: 4- 6, menulis bahwa setelah Yudas datang kepada Imam kepala dan penjaga Bait Allah untuk menyatakan siasat menyerahkan Yesus, mereka menjadi senang sekali dan menawarkan sejumlah uang. Bayangkan bagaimana pandangan mereka terhadap Yudas, tentu mereka memandang rendah kepada karakter Yudas.
Ciuman yang biasanya dipakai sebagai tanda persahabatan untuk menunjukkan rasa intim, dipakai oleh Yudas untuk menghianati gurunya.
Dosa yang paling keji adalah dosa penghianatan! Mengapa demikian ? Untuk bisa berkhianat, seseorang harus punya hubungan erat terlebih dahulu dengan orang yang akan dikhianati. Ini syaratnya, dengan ada hubungan baik terlebih dahulu, baru terjadi penghianatan.
Matius menuliskan, “ketika Yudas mencium Yesus, Yesus menyebutnya sahabat, tetapi Yudas tidak menanggapinya” (Mat. 26: 50). Disini ‘ciuman’ dipakai oleh surga dan neraka dengan tujuan berbeda.
Yudas menjual Yesus seharga 30 uang perak. Didalam Perjanjian Lama apabila seekor lembuh membunuh budak laki-laki atau permpuan, maka pemiliknya harus menggantikan seharga 30 syikal perak (Kel. 21: 32). Jadi buat Yudas, Yesus hanya berharga seperti seorang budak yang mati ditanduk lembu.
contoh:
Sex, ambisi, perbuatan baik bisa menjadi alat surga dan neraka.
Aplikasi: Coba bayangkan kepedihan hati karena pengkhianatan :
· Suami – istri
Kisah Yudas berakhir dengan sangat tragis: Gantung diri! (Mat. 27: 1- 5)
Lukas menulis di Kisah Rasul 1:18, ‘…..Yudas jatuh tertelungkup, perutnya terbelah, sampai isi perutnya tertumpah keluar’.
Ada scholar yang mengatakan bahwa Yudas berharapan bahwa saat Yesus ditangkap, Dia bisa melakukan mujizat dan melepaskan diri. Dipandangan Yudas, Yesus adalah seorang tukang sulap.
Ketika dia melihat Yesus ditangkap dan tidak melarikaan diri, bahkan Yesus disiksa, dia menjadi sangat menyesal, ditambah lagi dengan ejekan dari kepala Imam dan orang Farisi.
Penyesalan Yudas sangat dalam sekali, karena karakternya yang cinta uang membuat gurunya menderita dan mati. Dihadapan Yesus, Yudas merasa sangat bersalah dan dihadapan orang Farisi dia diejek, karena hatinya yang tidak pernah sepenuhnya diberikan kepada Yesus, dia merasa tidak ada jalan lain, selain mengakhiri penyesalannya dengan bunuh diri.
Yudas mengawali semuanya dengan baik, tetapi mengakhiri hidupnya dengan penyesalan, lalu gantung diri.(Paulus, Petrus).
Kematian Yesus tidak semudah yang kita bayangkan, Dia dipukuli semalaman sampai badanNya hancur,……….
Konklusi:
Yudas mengikut Yesus dengan hati yang bercabang, walaupun dia bergaul erat dengan Yesus, bahkan dia berkotbah, menyembuhkan orang sakit dan mengusir Setan, tetapi karakternya tidak mau berubah, akibatnya dia mengakhiri hidupnya dengan sangat menyedihkan.
Karena perkataan Yesus yang berbunyi; ’…….adalah lebih baik bagi orang itu apabila ia tidak pernah dilahirkan’, para scholar percaya bahwa Yudas tidak diselamatkan.
Matius 7: 21-31, Yesus berkata :’……pada hari terakhir akan banyak orang berseru kepadaKu,….bukankah kami bernubuat demi namaMu, mengusir setan demi namaMU, melakukan mujizat demi namaMu?…….pada waktu itu Aku berkata …Aku tidak mengenal kamu, enyalah dari hadapanKu, kamu sekalian pembuat kejahatan.’
Hati-hati dengan pelayanan kita, jangan sampai kita menjadi agen untuk mempromosikan Kerajaan Allah dan kasih anugerah Allah, tetapi kita sendiri tidak mendapat bagian didalamnya.
Tuhan menghendaki kita untuk melayani, tetapi Dia juga menghendaki kita untuk berubah karakternya.
Untuk anda yang melayani di IPC, tolong jangan anda berbohong atau tidak jujur dalam mengikuti sel, kami serius dengan gereja sel, setiap anda yang melayani harus menjadi bagian dari satu sel.