Jalan Kepada Kesempurnaan
(The Way of Perfection)
Pendahuluan
Baca Matius 5: 43 - 48 !
“Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna ” (ayat 48).
Perbedaan antara “haruslah” dengan “hendaklah”!
· Kata ‘haruslah’ mengandung paksaan!
· Kata ‘hendaklah’ mengandung pilihan!
Kata "sempurna" (perfect) ini, dalam bahasa Yunaninya adalah "Teleios", yang berarti "menjadi seperti yang dapat diharapkan dari seseorang pada waktu saat sekarang ini" (to be all that you can be expected to be at the present moment).
Jadi di dalam bahasa Yunani kata "Teleios" ini bukan dipakai untuk mengatakan "kesempurnaan mutlak dalam moral seseorang" (absolute moral perfection), melainkan hanya kesempurnaan yang dapat dilaksanakan secara praktis di bumi ini.
Didalam kasus Allah, "sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna", dimana kata “sempurna” itu ("Teleios") menandakan suatu “kesempurnaan yang mutlak”, yakni secara moral, nature dan character, etc. God is perfect God !
Tetapi di dalam kasus kita maka kata "Teleios" ini tidak lebih dari sesuatu "kemajuan","pertumbuhan", "perkembangan", atau "menuju kepada ....."
Ada empat hal yang ditandai dengan kesempurnaan (Teleios):
I. Bertumbuh dalam kedewasaan rohani (Ibrani 5:11-14)
"Tetapi makanan keras adalah untuk orang- orang dewasa/Teleios" (ayat 14a).
Disini kesempurnaan itu ditandai dengan ‘orang- orang dewasa’ (orang - orang yang selalu memelihara pertumbuhan rohaninya hingga mencapai tingkat kedewasaan).
Ada dua cara untuk dapat memelihara pertumbuhan rohani ( lihat Yoh. 15:1- 6):
· Senantiasa berada dalam Tuhan (Bersekutu dengan Allah melalui doa).
· Dipotong supaya lebih rapi (Pembentukan karakter)
→ Jadi, disini seseorang itu dikatakan sebagai "Teleios" apabila ia terus memelihara pertumbuhan rohaninya.
II. Menuju kepada rencana Allah (Fil. 3: 12- 15)
"Karena itu marilah kita, yang sempurna (Teleios) berpikir demikian" (ayat 15).
Disini kesempurnaan itu ditandai dengan ‘mengarahkan kepada tujuan atau sasaran yang telah Allah tetapkan bagi kita.’
Kehidupan orang kristen itu seumpama dalam suatu perlombaan bukan lari cepat tetapi marathon.
Bagaimana seorang pelari marathon itu dapat mencapai sasarannya ?
1. Pandangannya harus mengarah kedepan
2. Proaktif
Perbedaan antara ‘proaktif ’ dan ‘reaktif ’:
· Proaktif (bhs. management): thermostat, tidak dipengaruhi oleh keadaan/ kondisi atau cuaca disekitarnya. Entah hari hujan atau cerah tidak ada bedanya bagi mereka. Orang yang menomerduakan perasaan. Pada umumnya mereka digerakan oleh fakta (kenyataan) atau pandangan yang positif.
· Reaktif : thermometer, dipengaruhi oleh keadaan/ kondisi atau cuaca disekitarnya. Orang yang reaktif adalah orang yang dipengaruhi oleh cuaca atau lingkungan sosial. Ketika orang memperlakukan mereka dengan baik, mereka merasa enak. Mereka memberi kekuatan pada kelemahan orang lain untuk mengendalikan mereka. Pada umumnya mereka digerakan oleh perasaan, keadaan, kondisi dan lingkungan.
3. Memelihara ketaatan
→ Jadi, seseorang itu dikatakan sebagai "Teleios" apabila ia terus menuju kepada sasaran dan rencana Allah.
III. Bertumbuh didalam penyerahan kepada Allah (Mat. 19: 21)
"Jikalau engkau hendak sempurna (Teleios), pergilah, juallah segala milikmu ....."
Disini kesempurnaan itu ditandai dengan ‘bertumbuh didalam penyerahan kepada Tuhan.’
Jelaskan Yosua 5:1!
Didalam kehidupan kita sering sekali kita bersandar kepada kesempatan. Karena kesempatan itu selalu membawa keuntungan bagi kita. Setiap manusia tidak mau kehilangan kesempatan! Demikian Yosua.
Ketika orang Israel tiba disebuah daerah yang bernama Sitim, kemudian Allah memerintahkan orang Israel untuk bersiap- siap menuju kesungai Yordan. Dan pada waktu itu adalah musim menuai. Biasanya pada musim menuai, air disungai Yordan itu selalu meluap, karena salju yang berasal dari pegunungan Hermon mencair dan turun mengalir ke bagian utara melalui sungai Yordan, sehingga air sungai Yordan itu meluap. Sungai Yordan itu sungai yang cukup lebar dan dalam. Sekalipun diluar musim menuai, sungai inipun tidak gampang untuk di seberangi. Jadi ketika air sungai itu masih penuh meluap, Allah memerintahkan supaya orang Israel menyeberang. Secara pandangan manusia waktu itu tidak tepat. Sebaiknya Yosua tinggal dulu di Sitim sampai air sungai itu kembali surut.
Kemudian setelah orang Israel menyeberangi sungai Yordan dan kemudian berita itu sampai kepada raja- raja Kanaan maka mereka menjadi tawar hati. Lihat Amsal 24: 10!
Dan inilah kesempatan bagi Yosua dan orang- orang Israel untuk memukul kalah bangsa Kanaan dan merebut negeri mereka.
Tetapi, ayat 2, ‘Pada waktu itu berfirmanlah Tuhan kepada......................’
Jadi ketika kesempatan itu muncul, maka berfirmanlah Allah kepada Yosua, “Tunggu- tunggu, tidak sekarang ini! Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting lagi yang engkau harus lakukan bagiKu.”
Dalam pristiwa ini kita boleh menarik satu pelajaran,“Allah mengajar orang Israel untuk tidak bersandar kepada kesempatan” !
Jadi sebenarnya kalau seseorang memiliki kesempatan itu tidak salah. Tetapi yang salah adalah kalau ia bersandar kepada kesempatan. Tuhan mau supaya kita tidak bersandar kepada kesempatan.
Baca Maz. 37: 7- 9!
→ Jadi, disini seseorang itu dikatakan sebagai "Teleios" apabila ia terus bertumbuh didalam penyerahan kepada Tuhan.
Disini kesempurnaan itu ditandai dengan ‘bertumbuh hingga memiliki kasih yang seperti Allah.’
Ada lima kesamaan diantara orang- orang Kristen dengan orang- orang Farisi:
a. berdoa
b. berpuasa
c. membaca firman
d. melakukan firman
e. memberi persepuluhan
Tetapi yang berbeda adalah didalam ‘kasih’ dan ‘keadilan’( Lukas 11: 42, Mat. 23: 23).
Yusuf memiliki kasih seperti Yesus. Sekalipun ia diperlakukan tidak adil oleh kakak- kakaknya, tetapi ia mengampuni mereka semua (Kej. 50: 19- 21).
→ Jadi, disini seseorang itu dikatakan “Teleios” apabila ia bertumbuh hingga memiliki kasih yang seperti Allah.
Konklusi:
Sekarang, dapatkah kita katakan bahwa kita menjadi sempurna? Jawabnya: ya !